Antara Pandemi dan Rusaknya Ekosistem

Setahun lebih pandemi ini berlalu. Benarkah karena rusaknya ekosistem akibat ulah manusia sendiri?

Beberapa tahun terakhir ini adalah tahun duka dan kesedihan bagi umat manusia. Saya sempat berfikir bahwa ini adalah ‘tahun seleksi alam’ bagi kehidupan karena ada begitu banyak kematian akbibat musibah, bencana alam dan yang paling mengerikan adalah Covid-19 yang oleh WHO disebut sebagai pandemi global. 

Sampai artikel ini saya tulis, Covid-19 belum ada indikasi berhenti. Bahkan, virus penyebab Covid-19 ini telah bermutasi ke dalam varian-varian baru yang lebih mematikan. 

Secara global jumlah, kasus Covid-19 telah mencapai 132,302,451 juta dan 2,87 juta lebih diantaranya berakhir dengan kematian.

Di Indonesia sendiri kematian akibat virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas ini sudah mencapai 41.815 orang dari 1,54 juta kasus yang terjadi. Jumlah ini menempatkan Indonesia berada di peringkat ke-15 di dunia sebagai negara dengan angka kematian terbanyak akibat virus mematikan ini. 

Sebenarnya sejak awal Pebruari 2021 kurva penambahan kasus baru telah melandai, namun ini tidak serta merta bisa dijadikan tolak ukur dan indikasi bahwa Covid-19 akan segera terhenti.

Apalagi beberapa waktu ke depan bangsa ini punya “hajatan besar” yakni perayaan hari raya Idul Fitri yang di dalamnya terdapat tradisi “Halal bi Halal”, kumpul-kumpul, saling maaf memaafkan.

Andai saja tradisi ini dilakukan secara daring tentu itu tidak menjadi soal, namun bila dilakukan secara fisik seperti di masa lampau sebelum pandemi covid terjadi, maka sangat berpotensi memunculkan klaster baru. 

Dan apabila ini terjadi, maka upaya menghentikan laju penyebaran virus akan semakin lama lagi walaupun pemerintah telah memulai upaya pemerataan pemberian vaksin pada masyarakat.

Terlepas dari semua, pernah gak sih kita bertanya, kenapa semua kesedihan karena pandemi ini terjadi? Benarkah karena virus corona jenis baru atau karena sebab lain yang lebih dominan?

PENYEBAB

Fragmentasi Habitat dan Bencana Ekologi Karena Ulah Manusia

Boleh jadi selama ini kita berkeyakinan kalau pandemi Covid-19 disebabkan oleh virus corona jenis baru (SARS-CoV-2). Ya, itu benar. Namun itu adalah penyebab sekunder. 

Para ahli berpendapat bahwa penyebab primernya adalah ulah manusia itu sendiri yang cenderung exploratif-destructive dalam memanfaatkan sumber daya alam. 

Secara kasat mata kita melihat bagaimana manusia hingga kini masih saja melakukan deforestasi dengan menggunduli hutan, mengalihfungsi hutan untuk pemukiman, melakukan perburuan dan perdagangan hewan liar, memenuhi sungai dan lautan dengan sampah plastik dan bahan kimia berbahaya, dan lain sebagainya.

Aktivitas-aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab ini mengakibatkan kerusakan berdarah-darah pada bumi dan ekosistem yang hidup di dalamnya. Dampaknya, terjadilah berbagai bencana alam mengerikan seperti kebakaran hutan, banjir, tanah longsor dan perubahan iklim ekstrem. 

Dari semua bencana itu, yang tak kalah mengerikan adalah memunculkan berbagai femomena transmisi penyakit menular zoonosis, yakni penularan patogen dari hewan sebagai reservoir primer ke manusia yang berisiko menjadi pandemi global seperti halnya Covid-19 yang sedang kita alami saat ini.

Akan tetapi pandemi Covid-19 saat ini hanyalah salah satu contoh masifnya transmisi virus menuluar zoonosis dari hewan ke manusia. Sebelumnya, manusia telah mendapat pelajaran berharga dari munculnya berbagai virus. 

Sebut saja virus yang menginfeksi bronkitis atau IBV (1937), virus zika (1947), ebola (1976), nipah (1998), MERS (2012), SARS (2016), dan puluhan patogen lainnya yang dapat menginfeksi manusia.

animals
kelelawar low-low
kelelawar low-low
kelelawar low-low

Nipah

Terjadi di Malaysia padatahun 1999. Hewan pembawa virus adalah kelelawar.Virus ini disebabkan perubahan penggunaan lahan, deforestasi dan aktivitas peternakan dan perkebunan di batas hutan

Simian Immunodeficiency (SIV)

Terjadi di Afrika yang ditulaskan dari primata karena deforestasi, ekspani manusia ke hutan, pembangunan pemukiman di batas hutan.

Sumber Data

FAO, National Geographic dan dari berbagai sumber

Leishmaniasis

Terjadi di Amerika Selatan yang virusnya dibawa oleh beberapa mamalia. Virus ini disebabkan karena deforestasi juga perluasan pemukiman di batas hutan

Yellow Fever

Terjadi di Afrika dan Afrika Selatan. Hewan yang bertanggung jawab sebagai pembawa virus adalah nyamuk. Virus ini akibat deforestasi dan perluasan pemukiman di batas hutan.

Malaria

Terjadi di Afrika, Amerika Selatan Selatan dan Asia Tenggara dengan hewan pembawa virus adalah nyamuk. Virus ini juga akibat deforestasi dan perluasan pemukiman di batas hutan.

Ebola

Terjadi di Afrika Tengah dan Barat pada tahun 1976. Hewan pembawa virus adalah kelelawar.Virus ini disebabkan deforestasi.

Penting sebagai catatan, bahwa kemunculan penyakit infeksi menular (Zoonosis) penyebab utamanya adalah perubahan penggunaan lahan dan deforestasi. 

Perubahan penggunaan lahan dan masifnya deforestasi ini selanjutnya menyebabkan perubahan ekologi yang ditandai dengan perubahan konfigurasi pada habitat (fragmentasi habitat) hingga hilangnya habitat sejumlah spesies dan keanekaragaman hayati.

Nah, perubahan ekologi ini membuat banyak spesies akhirnya merambah ke wilayah manusia dan membuat kontak dengan manusia semakin dekat yang memudahkan transmisi penularan virus dari binatang ke manusia itu sendiri.

Secara alamiah virus dan patogen tersebut cepat bermutasi dan beradaptasi pada lingkungan yang baru sehingga selalu saja ditemukan jenis patogen-patogen baru yang lebih berbahaya. 

Namun, meskipun patogen tersebut berkembang secara alami pada awalnya, namun munculnya penyakit infeksi menular Zoonosis seperti halnya virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) sangat jelas karena dipicu oleh aktivitas manusia  salah satunya adalah akibat perubahan fungsi lahan dan deforestasi.

USAID bahkan menyatakan kalau perubahan fungsi lahan dan deforestasi ini menjdai penyebab dominan, dengan persentasi 31% dari total penyebab munculnya Zoonosis. 

Faktor Pemicu Munculnya Zoonosis

Sumber - Laporan USAID dan dan Eco-Health Alliance

afraid 01
afraid 03
afraid 03
afraid 03

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), perubahan fungsi lahan dan deforestasi diperkirakan telah mengakibatkan hilangnya 420 juta hektar sejak 1990. 

Akhir tahun lalu, tiga negara dengan hutan terluas di dunia yakni Indonesia, Brasil, dan Australia kehilangan hutannya karena kebakaran hebat. 

Negara kita sendiri, Indonesia, telah kehilangan 1,65 juta hektar hutan sepanjang tahun 2019. Sementara itu sampai 30 Januari 2020, Australia kehilangan hutan seluas 11 juta hektar sedangkan Brasil kehilangan sekitar 900.000 hektar hutan Amazon akibat terbakar.

Secara data, sebenarnya deforestasi mengalami penurunan. Sayangnya upaya perluasan hutan (reforestasi) pun masih belum bisa menutupi kehilangan hutan selama ini.  Pada periode 2015-2020, reforestasi setiap tahunnya hanya mencapai 5 juta hektar, hanya setengah dari luas hutan yang hilang pada periode yang sama.

forest

SOLUSI

Menjaga Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati Adalah Solusi Terbaik Mencegah Pandemi di Masa Depan

Sebenarnya, manusia pernah menjalin hubungan yang akrab dan mesra dengan lingkungannya. Ini terlihat dari aktivitas masyarakat tradisional tempo dulu yang  membangun hubungan baik dengan lingkungan berdasarkan pengetahuan dan nilai-nilai ekologi tradisional diwariskan oleh leluhur secara turun temurun. 

Namun, ada berbagai persoalan yang mmebuat hubungan itu koyak, yakni ledakan populasi yang dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat. Ini menyebabkan perubahan dramatis dalam pola hubungan dan interaksi manusia dengan lingkungannya. 

Sayangnya, perubahan interaksi tersebut menjadi tidak harmonis dan tidak seimbang yang justru mendorong terjadinya berbagai bencana ekologi. Salah satunya adalah munculnya pandemi-COVID-19.

Dari rentetan kejadian yang menyebabkan bencana ekologi ini, seharusnya manusia mulai menyadari betapa penting menjaga keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati (biodiversity). 

Setidaknya muncul kesadaran bahwa manusia bersama organisme lain yang hidup di dalam lingkungannya merupakan sebuah ekosistem yang saling berhubungan dan membutuhkan kesimbangan. Apapun yang dilakukan manusia pasti akan berpengaruh pula pada ekosistem.

Manusia memang mempunyai hak untuk memanfaatkan lingkungan hidupnya baik dalam pengertian biofisik maupun pengertian kognitif, namun harus secara bertanggung jawab, tidak destructive.

Semua yang telah terjadi masih belum terlambat untuk diperbaiki. Cara paling rasional adalah memberi edukasi untuk menumbuhkan awareness kepada masyarakat terutama generasi muda tentang betapa penting menanamkan kebiasaan pelestarian lingkungan, menjaga keseimbangan ekosistem dan keanekagaman hayati demi masa depan yang berkelanjutan.

Bumi dan segala keanekaragagaman hayati yang ada padanya adalah titipan generasi mendatang. Merusaknya berarti merusak pula hak mereka untuk menikmati hidup yang lebih baik di masa depan.

Lebih dari itu, pelestarian lingkungan, menjaga keseimbangan ekosistem dan kekayaan hayati adalah cara terbaik mencegah pandemi di masa depan.

ls05d

Akhir Tulisan

Kebanyakan orang mungkin tidak menyadari bahwa berbagai bencana termasuk pandemi-19 sebenarnya berkaitan erat dengan perubahan habitat dan ekosistem karena aktivitas manusia seperti perubahan penggunaan lahan dan deforestasi.

Meski manusia mungkin memang menjadi penyebab segala kerusakan tersebut, akan tetapi masih ada kesempatan untuk memperbaikinya. Apa yang dilakukan adalah menghentikan segala aktivitas buruk yang berdampak pada kerusakan ekosistem.

Melindungi ekosistem adalah jaminan yang diperlukan oleh planet ini untuk mengurangi risiko dan kerugian akibat bencana dan pandemi di masa mendatang. 

Terima kasih telah membaca artikel ini , semoga bermanfaat.