Blunder Postingan Sosial Media di Tengah Duka Pandemi

Ada banyak cerita bagaimana masyarakat (para penggiat sosial media) tak ubahnya pewarta dadakan. Mereka membagikan informasi apa pun yang dikehendaki meskipun itu sampah. Dampaknya sangat merusak, lebih-lebih di masa pandemi seperti saat ini. Bagaimana memanfaatkan sosial media secara bijak di masa pandemi?

#GR3ATESTGENERATION

ornament01
Asset 9@4x

Internet telah mengubah wajah dunia. Limitasi geografis kian tipis dan nyaris runtuh. Dunia yang besar ini pun berubah tak ubahnya sebuah kampung besar semata. Tak ada satu pun entitas yang benar-benar tersembunyi. Semua entitas terhubung dalam sebuah jaringan virtual yang bernama internet.

Dalam perubahan ini, sosial media menjadi bagian integral dalam interaksi para penghuninya. Ia menawarkan berbagai kemudahan untuk mengakses dan membagikan informasi secara cepat, mudah, serta murah. Kemudahan ini menjadikan ruang-ruang publik dibanjiri berbagai jenis informasi, deras tanpa batas seperti air bah di musim penghujan.

Namun dalam perkembangannya, sosial media pun menjadi alat paling jahat, berbahaya dan destruktif. Ia digunakan untuk menyebarkan infodemik liar, menyesatkan, bahkan keluar dari batas-batas norma dan adab.

 Isinya tidak lagi memberikan informasi yang menyejukan namun penuh dengan hoax, informasi salah dan keliru, adu domba yang menimbulkan keresahan, bahkan dikala masyarakat masih dirundung duka karena pandemi covid-19.

ornament01
Ornament 02
Ornament 6

DAMPAK SOSIAL MEDIA

Periuk Dapur Tumbang Karena Postingan Sosial Media

Ketika informasi yang beredar di lapak maya tak terbatas, acap kali masyarakat tidak lagi bisa membedakan mana informasi yang benar dan mana yang tak benar. Bahkan, hanya karena kesamaan kepentingan dan identitas sosial tertentu saja banyak orang teperdaya. Mereka memercayai begitu saja informasi yang beredar meskipun berisi hasutan.

Ya. Ada banyak cerita bagaimana masyarakat (para penggiat sosial media) tak ubahnya pewarta dadakan. Mereka membagikan informasi apa pun yang dikehendaki meskipun itu sampah.

Dalam hitungan detik, informasi tersebut menyebar luas di kalangan pengguna sosial media lain, menjadi viral dan berpotensi mempengaruhi persepsi masyarakat. 

Dapat dibayangkan, apa yang akan terjadi manakala setiap individu begitu mudahnya mengunggah ujaran kebencian (hate speech), informasi hoax, informasi salah dan  informasi keliru yang provokatif tanpa bisa dicegah, bukan?

Awal tahun lalu, saya pun menjadi korban ketengilan orang yang suka memainkan jari-jemarinya di atas layar handphone untuk menyebarkan informasi yang tidak benar.

Di kala saya dan istri sedang berjuang menegakan periuk dapur dengan berjualan makanan dan minuman di depan rumah, muncul informasi entah dari mana yang mengatakan salah satu anggota keluarga saya terkena Covid-19.

Awalnya informasi tersebut hanya beredar dari mulut ke mulut dalam lingkup lingkungan sekitar, namun entah bagaimana ceritanya tersebar luas dalam facebook komunitas.

Saya sendiri baru tahu ketika ketua RT dan kelurahan datang ke rumah meminta kejelasan atas kebenaran informasi tersebut.

Kedatangan ketua RT dan kelurahan ini sekaligus menjadi jawaban, kenapa lebih dari setengah bulan tak ada satu pun tetangga datang untuk membeli makanan dan minuman. Hal yang tak biasa sejak saya menghidupkan kembali usaha tersebut setelah tutup karena lingkungan tempat tinggal saya beberapa kali masuk zona merah.

Karena informasi itu, periuk dapur pun tumbang kembali. Bisa dibayangkan akhirnya, betapa berat beban ekonomi keluarga yang saya tangggung mengingat usaha tersebut menjadi gantungan hidup keluarga selama pandemi.

Saya sendiri tak habis pikir, bagaimana sosial media yang seharusnya menjadi alat untuk menyebarkan informasi baik dan saling menguatkan dalam duka pandemi ini malah menjadi blunder yang membahayakan.

speaker
Ornament 03

PROBLEM DI INDONESIA

Cultural Lag dan Rendahnya Literasi Digital

Patut diakui bahwa dengan banyaknya kasus serupa seperti yang saya alami menunjukkan masih ada kesalahan pemahaman dari masyarakat Indonesia dalam memanfaatkan sosial media. Pemahaman salah kaprah yang sangat berbahaya. Kenapa?

Meskipun saya belum menemukan studi yang bisa dijadikan referensi namun mudahnya masyarakat menyebarkan berita negatif dan sebagian lagi mudah terperdaya olehnya menunjukan bahwa masyarakat Indonesia masih mengalami cultural lag (ketertinggalan budaya). 

Ini sangat ironis mengingat sosial media bukan mainan baru bagi masyarakat Indonesia. Selain itu, negara kita pun bukan negara terbelakang dalam dunia digital. Berbagai platform sosial media sudah menjadi hal lumrah digunakan di republik ini. 

Bahkan, menurut Hootsuite (We Are Social) dalam Indonesian Digital Report tahun 2021, 61,8% dari total populasi nasional sebesar 274,9 juta penduduk adalah pengguna sosial media dalam berbagai platform. Apa penyebabnya?

Ketertinggalam budaya ini sendiri disebabkan banyak faktor. Salah satu yang paling mendasar adalah masyarakat belum benar-benar memiliki tingkat literasi digital yang memadai dalam menyikapi fenomena booming informasi dalam ekosistem digital sosial media.

Masyarakat masih belum banyak menyadari bahwa media sosial merupakan ruang publik. Apapun yang diposting dan dibagikan sebenarnya membutuhkan tanggung jawab (responsibility).

Selain itu, pengguna sosial media seringkali bersembunyi di balik kerumunan besar komunitas. Mereka merasa apa yang dilakukan adalah sesuatu yang benar dan tak ada konsekwensi hukumnya sehingga bebas membuat dan menyebarkan informasi apa pun yang mereka mau.

Padahal faktanya di negara kita sudah ada ada Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yakni UU No 11 tahun 2008.

Hukumannya pun tak main-main. Pada pasal 45A ayat (1) UU ITE misalnya disebutkan, siapa saja yang sengaja menyebarkan berita bohong dan menyesatkan serta mengakibatkan kerugian dalam transaksi elektronik bisa dikenakan pidana berat yakni penjara paling lama enam tahun dan/atau denda maksimal Rp 1 miliar.

Postingamu adalah harimaumu. Nampaknya kalimat ini tak cukup menjadi pengingat, meskipun sudah banyak pelaku penyebar informasi hoax dan ujaran kebencian terutama tentang corona masuk jeruji besi.   

Indonesian Digital Report 2021 (dalam Juta)

Hootsuite (We are Social)

274.9

Total Populasi Nasional

Urbanisasi – 57,0%

345.3

Pengguna Celular

vs Populasi -125,6%

202.6

Pengguna Internet

vs Populasi -73,7%

170

Pengguna Sosial Media

vs Populasi – 61,8%

#KAMUHARUSTAU
70 Kasus Hoax Corona di Indonesia Sudah Diselidiki Polisi
Baca artikel menarik di indozone

70 Kasus Hoax Corona di Indonesia Sudah Diselidiki Polisi

Penyebaran hoax tentang virus corona atau Covid-19 masih terus terjadi. Mabes Polri mencatat sudah 70 kasus hoax virus corona sudah diusut oleh Polri.

ornament4
Ornament5

Memanfaatkan Sosial Media Secara Bijak di Saat Pandemi

Pandemi Cocid-19 telah menyebabkan duka mendalam karena banyaknya kematian yang disebabkannya. Pemerintah dan masyarakat bersatu padu memutus mata rantai pandemi dengan berbagai upaya. Sayangnya upaya itu terganggu dengan muculnya infodemik seputar COVID-19 yakni informasi hoax, informasi keliru (false news) dan informasi palsu (fake news) dengan dampaknya yang dahsyat.

Infodemik ini sama berbahayanya dengan covid-19 itu sendiri. Dampaknya bisa merusak persepsi dan memicu kepanikan masyarakat. Banyak orang akhirnya menyepelekan Covid-19, abai terhadap protokol kesehatan, tidak mau divaksinasi dan sebagainya.

Di kampung saya saja yang berada di pelosok pedesaan, ada banyak orang yang terkena dampak ini. Jangankan divaksin, dihimbau untuk memakai masker dan menjaga jarak saja tidak mau. Mereka malah mengatakan kalau covid-19 itu tidak ada, fiktif, hanya konspirasi dan akal-akalan pihak terentusaja. Ngeri, bukan? 

Hal seperti ini mungkin saja terjadi di berbagai tempat lain di negara kita. Tentu ini membahayakan keselamatan diri sendiri, keluarga, dan lingkungan.

Nah, melihat dampak yang begitu berbahaya bagi masyarakat di masa pandemi ini maka sebagai makhluk yang berbudaya kita mesti lebih bijak menggunakan sosial media. 

Yang paling utama adalah tidak menggunakannya untuk memproduksi konten-konten hoax, berita palsu dan informasi keliru. Tidak ada untungnya itu selain hanya memunculkan dampak yang merusak dan berdarah-darah.

Jaga pula etika kita dalam bersosial media dengan tidak membuat status dan memposting hal-hal yang berbau SARA dan pornografi. Dalam kondisi masyarakat yang mengalami keterbatasan dalam banyak hal karena pandemi, ini bisa menyulut konflik horizontal yang berkepanjangan. 

Selain itu, jangan asal posting dan share informasi tanpa menelusuri kebenarannya serta jangan mengumbar data diri agar tidak dimanfaatkan pihak lain yang tak bertanggung jawab. 

Di masa pandemi seperti ini, sebenarnya sosial media bisa kita manfaatkan untuk hal-hal yang lebih produktif dan bermanfaat. Sebut saja seperti untuk mengembangkan bisnis (promosi produk), mendapatkan hiburan, dan mendukung kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Kita juga bisa memanfaatkanya untuk menambah relasi, mengbadikan momen-momen berharga dalam hidup, mendapatkan inspirasi-insspirasi  baru, mendapatkan informasi up to date dari sumber yang terpercaya, membagikan tips-tips sehat, membagikan quote-quote motivasi sukses, dan sebagainya.

ornament7
ornament7

Akhir Tulisan

Dunia kecil yang bernama sosial media, pada dasarnya dirancang untuk sesuatu yang positif dan bermanfaat, yakni sebagai sarana untuk mendapatkan informasi, melakukan komunikasi, serta mendapatkan hiburan menarik.  

Namun dalam perkembangnya, sosial media digunakan oleh entitas tententu untuk melakukan keburukan dengan menyebarkan berbagai informasi yang salah, keliru bahkan hoax  kepada pembacanya.   

Dalam masa pandemi seperti saat ini, informasi seperti itu menyebabkan blunder yang berdampak pada upaya pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran virus corona yang sampai saat ini grafiknya belum benar-benar melandai. 

Mari kita bantu pemerintah agar bangsa ini merdeka dari pandemi secepat mungkin sehingga kita mendapatkan kebebasan berusaha kembali seperti dulu lagi. 

Caranya juga mudah yakni dengan memanfaatkan sosial media secara bijak, sehat, produktif dan bertanggung jawab agar memberi dampak positif bagi diri sendiri dan masyarakat. 

Perkaya juga wawasan kita untuk mendapatkan ide bagaimana memanfaatkan sosial media di masa pandemi secara bijak dengan membaca artikel-atikel menarik di Indozone.id.

#KamuHarusTau bahwa Indozone adalah situs berita online multi-platform yang fokus pada konten news dan entertainment serta membahas segala hal dari seluruh dunia yang pas untuk para millenial dan Gen Z.

Terima kasih telah membaca artikel ini, semoga bermanfaat.   

logo Indozone

The Most Engaging Media For Millenials and Gen-Z

  • #KAMUHARUSTAU
  • News
  • Fakta Dan Mitos
  • Fakta Dan Mitos
  • Game
  • Tech
  • Food
  • Soccer
  • Beauty
  • FYI
  • Life
  • Travel
  • Health
  • Movie
  • Music
  • Seleb
  • Infografik
  • Videografik