Merdeka Dari Pandemi dan Sekelumit Harapan Orang Kecil Pada Ekosistem

Di saat pandemi seperti saat ini, harusnya kita semakin mengerti betapa berharganya hidup, betapa berharganya kesehatan, dan betapa pentingnya keseimbangan alam. Sesuatu yang barangkali banyak terabaikan di waktu lampau. Bila merdeka dari pandemi kelak, apa sih harapan saya?

Ornament 02
Ornament 03

Seminggu ini saya sedikit lega melihat update kasus infeksi dan kematian karena covid-19. Meskipun grafik belum bisa dikatakan benar-benar melandai, namun jumlah infeksi dan kematian secara nasional berangsur-angsur menurun sejak ledakan kasus terkonfirmasi pada pertengahan Juli 2021, di mana pada saat itu jumlah kasus tertinggi mencapai 56.757 kasus.

Saya melihat geliat aktivitas ekonomi di sana-sini walaupun masih penuh dengan kehati-hatian dan benar-benar menerapkan protokol kesehatan dengan ketat. Itu artinya masyarakat sudah semakin aware dengan hal ini. 

Harapannya sih semoga saja penurunan ini terus terjaga sehingga prediksi munculnya gelombang ketiga covid pada akhir hingga pertengahan tahun depan tak terbukti.

Dalam lubuk hati yang paling dalam, saya benar-benar berharap bangsa ini benar-benar merdeka dari pandemi covid-19 sesegera mungkin. 

Sebagai pekerja sektor informal yang menggantungkan hidupnya pada situasi dan kondisi lingkungan, jujur saja saya sudah sangat jenuh hidup dalam keterbatasan, ketidakpastian dan selalu diliputi ketakutan. Batin ini pun terasa tercabik-cabik melihat kematian sanak saudara, handai taulan, tetangga dan relasi-relasi karena covid-19 ini.

Ya. Sejak pandemi masuk negara ini, saya merasa malaikat maut seperti berdiri di depan pintu rumah. Kapan saja ia membawa saya terbang ke alam keabadian karena infeksi virus corona yang mungkin tak tertahankan tubuh. 

Dalam masa-masa seperti ini saya semakin mengerti betapa berharganya hidup, betapa berharganya kesehatan, dan betapa pentingnya keseimbangan alam. Sesuatu yang barangkali banyak terbaikan di waktu lampau.

Nah, bila ada umur hingga bangsa ini merdeka dari pandemi, saya mempunyai satu keinginan dan harapan yang mungkin bisa menjadi renungan bersama. Apa itu?

Photo credit – www.pexels.com/@hngstrm

Harapan saat Merdeka dari Pandemi

Pandemi dan Rusaknya Ekosistem
Sebagian besar orang mengatakan bahwa penyebab Covid-19 adalah virus corona jenis baru (SARS-CoV-2). Namun apakah itu menjadi penyebab utamanya?

Sampai saat ini saya mempunyai keyakinan bahwa penyebab utama covid-19 adalah rusaknya ekosistem akibat ulah manusia sendiri dalam memanfaatkan sumber daya alam. Manusia terlalu ekploratif tanpa memikirkan keberlanjutannya. 

Sudah menjadi rahasia umum bahwa sampai saat ini masih saja terjadi deforestasi di sana-sini. Berhektar-hektar hutan dialihfungsikan menjadi ladang pertanian, hunian dan perkotaan. Di samping itu, manusia juga masih belum bisa meninggalkan aktivitas perburuan dan perdagangan hewan liar, bahkan pada binatang yang hampir punah dan dilindungi pemerintah sekalipun. 

Di sisi lain, sungai, lautan dan hutan juga penuh dengan sampah plastik dan bahan kimia berbahaya lain akibat timbulan sampah yang terus menerus.

Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Deforestasi diperkirakan telah mengakibatkan hilangnya 420 juta hektar sejak 1990. 

Akhir tahun lalu saja, tiga negara pemilik hutan terluas di dunia yakni Indonesia, Brasil, dan Australia telah kehilangan jutaan hektar hutannya akibat kebakaran hebat yang disengaja maupun tidak.

Negara kita sendiri, Indonesia, telah kehilangan setidaknya 1,65 juta hektar hutan sepanjang tahun 2019. Sementara itu sampai 30 Januari 2020, negara tentangga kita Australia kehilangan hutan seluas 11 juta hektar, sedangkan Brasil kehilangan sekitar 900.000 hektar hutan Amazon akibat terbakar.

Secara data, FAO menyebut sebenarnya deforestasi telah mengalami penurunan dengan adanya berbagai upaya reforestasi (perluasan hutan kembali). Namun, upaya itu pun masih belum mampu menutupi kehilangan hutan selama ini. 

Sepanjang tahun 2015-2020, reforestasi setiap tahunnya memang mencapai 5 juta hektar. Namun jumlah ini hanya mengganti setengah dari luas hutan yang hilang karena deforestasi pada periode yang sama.

Deforestasi vs Reforestasi 1990 - 2020

(Dalam Juta Hektar)

Sumber -Global Forest Resources Assestment, FAO, 2020

Deforestasi dan aktivitas lain yang berhubungan dengannya ini mengakibatkan rusaknya ekosistem, yang berdampak pada munculnya berbagai bencana alam seperti kebakaran hutan, banjir, tanah longsor dan perubahan iklim yang sangat ekstrem.

Namun yang tak kalah mengerikan adalah, kerusakan ekosistem ini memicu munculnya fenomena zoonosis, yakni transmisi penyakit menular dari hewan (reservoir primer) ke manusia yang menyebabkan pandemi global seperti halnya Covid-19 yang sedang kita alami saat ini.

Dalam laporan tahunannya, USAID (United States Agency for International Development) dan Eco-Health Alliance mengatakan bahwa zoonosis ini terjadi karena telah terjadi perubahan ekologi yang ditandai dengan fragmentasi habitat hingga hilangnya habitat sejumlah spesies dan keanekaragaman hayati di bumi.

Hilangnya habitat ini sendiri mengakibatkan fenomena masuknya berbagai spesies merambah ke pemukiman penduduk yang semakin sering diberitakan media beberapa dekade terakhir ini. 

Nah, masuknya spesies ke pemukiman ini membuat kontak dengan manusia semakin dekat sehingga memudahkan transmisi penularan virus dari binatang ke manusia itu sendiri. 

Secara alamiah virus dan patogen tersebut beradaptasi dan terus bermutasi pada lingkungan yang baru sehingga selalu ditemukan patogen-patogen baru yang lebih berbahaya.

Faktor Pemicu Munculnya Zoonosis

Sumber - Laporan USAID dan Eco-Health Alliance

Harapan saat Merdeka dari Pandemi

Menjaga Ekosistem Untuk Mencegah Pandemi di Masa Depan

Saya sendiri menaruh harapan besar bahwa saat merdeka dari pandemi ini, kita menjaga ekosistem dan mengulang kembali kemesraan dengan alam.

Harapan itu masuk akal karena sebenarnya kita pernah menjalin hubungan mesra dengan alam dan lingkungannya di masa lampau. 

Masyarakat terdahulu telah membangun hubungan baik dengan alam berdasarkan pengetahuan dan nilai-nilai ekologi tradisional dari para leluhur. Nilai-nilai tersebut kemudian diwariskan ke generasi berikutnya secara turun temurun.

Namun dalam perjalanannya, muncul berbagai persoalan yang membuat hubungan itu retak berkeping-keping. Penyebabnya adalah ledakan populasi dan kemajuan teknologi yang dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat dan cenderung konsumtif

Bertambahnya populasi ini menjadi alasan kenapa terjadi alih fungsi hutan untuk pemukiman, perkebuhan dan pertanian masyarakat. 

Alih fungsi lahan itu menyebabkan perubahan dramatis dalam pola hubungan dan interaksi manusia dengan lingkungannya yang mendorong terjadinya berbagai bencana ekologi.

Sebelum covid-19, kita sebenarnya telah mendapatkan pelajaran berharga dari munculnya berbagai kasus zoonosis seperti virus Zika, Ebola, Nipah, MERS, SARS, Malaria, Yellow Fever, Simian Immunodeficiency (SIV), Leishmaniasis, dan berbagai patogen lainnya yang menginfeksi manusia.

Hampir semua virus dan patogen tersebut muncul karena fragmentasi habitat dan ketidakseimbangan ekosistem yang disebabkan deforestasi dan kegiatan-kegiatan sejenis lainya.

Di bumi ini kita bukanlah penghuni tunggal. Ada banyak organisme lain hidup bersama kita sebagai satu kesatuan ekosistem yang saling berhubungan dan interdependensi satu sama lain. Jadi, apapun yang kita dilakukan pada lingkungan pasti berpengaruh pada keseimbanganya.

Munculnya rentetan bencana ekologi di atas adalah sebagai bukti bahwa ekosistem memang sudah tidak lagi seimbang. Seharusnya ini membuat kita sadar bahwa betapa penting menjaga keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati.

Namun semuanya sudah terjadi. Meskipun demikian kita masih belum terlambat untuk memperbaiknya kebali. Apa yang harus dilakukan?

Pertama, kita perlu mengedukasi diri sendiri untuk memunculkan kesadaran bahwa bumi dan segala keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya adalah titipan generasi mendatang. Merusaknya berarti merusak pula hak mereka untuk menikmati hidup yang lebih baik dimasa depan. 

Kedua, setiap entitas mempunyai tanggung jawab yang sama untuk menumbuhkan kesadaran (awareness) masyarakat tentang pentingnya menanamkan kebiasaan pelestarian alam dan lingkungan dari hal paling kecil.

Hal kecil yang saya maksudkan bisa diawali dari membudayakan membuang sampah pada tempatnya dan sesuai dengan jenisnya agar bisa didaur ulang sehinga sampah tidak hanya berakhir di TPA atau bahkan di laut dan hutan.

Ketiga, ikut ambil bagian dalam gerakan penanaman pohon kembali baik secara mandiri maupun melalui organisasi-organisasi yang peduli pada kelestarian alam.

Keempat, masyarakat dan mahasiswa harus terus mendorong pemerintah agar konsistem melakukan resforestasi berkelanjutan untuk menutupi kehilangan hutan entah karena deforestasi maupun kebakaran hutan. 

Bersamaan dengan itu, masyarakat dan mahasiswa juga terus mendorong pemerintah menerapkan sanksi tegas bagi pelaku pembalakan liar, pembakaran hutan serta perburuan satwa-satwa liar yang hingga kini masih terjadi.

Ya, kita masih bisa memperbaiki keseimbangan ekosistem yang sudah koyak meskipun membutuhkan waktu lama. Akan tetapi Ini adalah salah satu cara terbaik untuk mencegah munculnya pandemi di masa depan. 

Mahasiswa unpar Penghijauan di hutan lindung

Kerja Bakti Dan Penanaman Bibit Pohon Lindung Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia UNPAR – image credit:www.tk.unpar.ac.id

Mapala Unpar

Mahitala Menanam (Mahitalaunpar)-image credit:www.unpar.ac.id

unpar alumni

Yayasan Pena-Alumni Unpar-Budiasi Lakukan Penghijauan-image credit:www.investor.id

Image credit:Pixabay from Pexels.com

Akhir Tulisan

Jangan Kehilangan Harapan

Acapkali kita mungkin merasa jenuh dan jemu dengan kondisi saat ini di mana pandemi masih belum tahu kapan akan berakhir. Saya pun mengalaminya. Ya. Itu manusiawi sekali. 

Meskipun demikian kita jangan sampai kehilangan harapan. Saya yakin bahwa dengan apa yang diupayakan oleh pemerintah dan dukungan masyarakat saat ini, kita akan merdeka dari pandemi sesegera mungkin dan bisa merancang kembali masa depan dengan bijak dan lebih baik.

Kalau merdeka dari pandemi ini terwujud, sebagai orang kecil yang tinggal di kampung saya menaruh harapan besar bahwa kita bisa lebih aware lagi pada keseimbangan ekosistem dan menjaganya sebaik mungkin. Ini penting agar tidak terjadi lagi fragmentasi habitat yang menyebabkan berbagai kasus zoonosis yang berubah menjadi pandemi global seperti Covid-19 yang kita alami saat ini.

Masih ada waktu bagi kita untuk memperbaiki keromantisan serta jalinan kemesaraan dengan alam dan ekosistem seperti yang telah ditunjukan nenek moyang di masa lampau. Dan ini salah satu cara terbaik menghindari pandemi di masa depan.

Ayo kita mulai dari sekarang yakni dengan membiasakan melakukan hal-hal kecil namun berarti, serta mendorong dan mendukung langkah pemerintah untuk melakukan reforestasi dengan baik.  

Unpar cover

Baca artikel menarik lainnya

Kolaborasi Masyarakat Dan Sains Melawan Pandemi

Sains dan masyarakat tidak bisa dipisahkan. Sains digunakan manusia untuk memahami alam dan kehidupan. Pemahaman ini…

Referensi 

Image – Foto