Pak Kumis Dan SEMANGAT Berbagi Di Era Baru

Kotak Kuning

Berbagi adalah bahasa universal yang digerakkan oleh hati. Tak harus menunggu kaya untuk melakukannya. Siapa pun bisa. Masalahnya adalah mau atau tidak. 

Suara kerincing lonceng terdengar semakin jelas. Saya hafal betul, itu pasti Pak Kumis. Ya, hanya beliau satu-satunya abang becak di kampung saya yang “kreatif” memasang lonceng di becaknya. Dalam radius tertentu, suara loncengnya akan kedengaran nyaring berirama seperti gerobak sapi yang menarik pedati.

Setiap jam setengah tujuh pagi, lelaki paruh baya ini pasti sudah memarkirkan becaknya di depan rumah. Kalau sudah begini mana mau ia mengayuh becak mengantar orang lain sebelum tahu keluarga saya membutuhkan jasanya atau tidak. 

Unik. Iya, dan hal ini sudah sudah dilakukan puluhan tahun, bahkan sejak saya SMA. Saya sampai bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya apa yang telah dilakukan orang tua saya terdahulu sampai-sampai Pak Kumis sedemikian “setia” kepada keluarga saya. 

Semangat Berbagi di Era Baru

Kalau saja kesetiaan mempunyai wajah, mungkin Pak Kumis salah satunya. Melihat Pak Kumis, mengingatkan saya pada kisah Dora dan Sembada, dua orang “prewangan” Ajisaka dalam kisah terciptanya absara Jawa, Honocoroko. Kesetiaan tanpa syarat dan tanpa pamrih.

Sayangnya Pak Kumis enggak pernah cerita alasannya. Hanya saja ia pernah bilang kepada saya, 

Wong urip iku kudu urup, Mas (Orang hidup itu mesti bermanfaat bagi orang lain, Mas).”  Kata Pak Kumis yang dulu punya kumis selebat Oppie Kumis.

Tentu saja saya paham prinsip hidup tersebut. Itu prinsip hidup orang Jawa yang lestari hingga saat ini. Namun, apakah karena prinsip itu?  

Saya masih belum. Tetapi kalau benar, beliau teguh memegang prinsip tersebut. Tak goyah dengan perubahan jaman yang semakin materialitis dan individualis. 

Dokumentasi pribadi, diambil sebelum Pandemi Covid-19

Semangat BERBAGI
YANG AKHIRNYA MENJADI TRADISI.

Benar kata peribahasa, Don’t Judge A Book by it’s Cover. Ya, kita memang tak boleh menilai seseorang hanya dari penampilannya saja. Apa yang terlihat mata bisa jadi menyembunyikan banyak misteri di dalamnya. 

Seperti itu pula dengan Pak Kumis. Satu sisi, ia memang hanya seorang penarik becak, sebuah profesi keras dan sering disepelekan. Tampilannya apa adanya dan kadang lusuh karena ia berteman dengan terik dan hujan serta mesti bersimbah peluh. 

Namun percayalah bahwa ada banyak hal menarik yang saya pelajari dari Pak Kumis, terutama dengan sikapnya yang “andap ashor” dan kedermawanannya.. 

Rasa-rasanya, Pak Kumis juga telah “mewakafkan” harta dan tenaganya atas nama kebaikan dan kebermanfaatan.

Saya ingat betul, ketika virus corona masuk wilayah tempat tinggal saya (berasal dari kluster Goa), ia begitu panik. Ia tergopoh-gopoh datang ke rumah hanya untuk memberikan beberapa masker. Padahal saat itu masker mahal karena langka.

“Mas, ini ada masker. Corona sudah masuk di Kaligangsa Wetan. Dua orang sudah dinyatakan positif. Jangan ke mana-mana.” Kata Pak Kumis.

Saya hanya tersenyum menerima masker pemberiannya. Sebenarnya saya ingin menolak karena istri saya sudah membeli beberapa masker untuk persediaan keluarga. Namun saya tak ingin membuatnya kecewa.

“Matur nuwun, Pak.” Kata saya.

Dokumentasi pribadi, diambil sebelum Pandemi Covid-19

Satu hal yang membuat saya tambah hormat sama Pak Kumis adalah rasa empatinya dan jiwa sosialnya yang tinggi. 

Jauh sebelum pandemi. dia adalah inisiator Jumat berbagi di kampung saya. Suatu ketika ia menyerahkan sejumlah uang kepada istri saya. 

“Ini uang untuk apa, Pak.” Tanya istri saya.

“Saya pesan nasi bungkus, Mbak. Sedapatnya saja. Nanti siang mau saya taruh di Masjid untuk jamaah Sholat Jum’at. ” Kata Pak Kumis. 

“Lha, memang ada program seperti itu sekarang, Pak?” Tanya istri saya lagi.

“Mboten, Mbak. Saya hanya ingin berbagi saja. Kebetulan ada sedikit rejeki .” Jawab Pak Kumis.

Saya yang duduk tak seberapa jauh dari istri saya jadi bengong sendiri.

“Lha bagus itu, Pak. Bisa menjadi tradisi baru di lingkungan kita.  Saya ikutan nambahi nasi bungkusnya deh, Pak” Kata saya menimpali. Kebetulan istri saya memang mengelola usaha kedai makan, dan salah satunya menunya ya nasi ponggol (nasi bungkus khas Brebes) itu.  

Dan benar saja. Apa yang dilakukan Pak Kumis ini mendapat respon positif dari warga. Jum’at-jum’at selanjutnya banyak warga ikut berbagi makanan, minuman, roti dan sebagainya. Hingga saat ini.

Andai saja Pak Kumis tidak memulai, mungkin tradisi Jumat berbagi ini tidak ada sama sekali. Dan, siapa sangka ide ini muncul dari seorang abang becak, Pak Kumis.

Dokumentasi pribadi, diambil sebelum Pandemi Covid-19

SEMANGAT BERBAGI DI ERA BARU,
BERDONASI MELALUI LAZ Ucare INDONESIA.

Ya, PSBB memang telah dilonggarkan dan masyarakat masuk dalam era kenormalan baru (new normal life). Walaupun masyarakat bisa beraktivitas kembali namun kondisi ekonomi belum benar-benar sepenuhnya pulih. Masih banyak masyarakat yang kesulitan secara ekonomi. 

Apa yang dilakukan Pak Kumis adalah hal baik dan menginspirasi. Numun saat ini, situasi dan kondisi sudah berbeda. Kita pun harus menyesuaikan diri.

Masuki new normal life,  semangat berbagi di era baru adalah dengan melakukan donasi melalui yayasan atau lembaga yang secara khusus dan berpengalaman mengelola donasi masyarakat. Ada banyak lembaga yang bisa kita pilih. Sebut saja salah satunya adalah LAZ UCare Indonesia. 

LAZ Ucare Indonesia adalah Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang berdiri 3 tahun lalu di bawah Yayasan Ukhuwah Care Indonesia. LAZ Ucare Indonesia ini fokus mengelola dana zakat, infaq, shodaqoh dan dana sosial lainnya, termasuk dana CSR.

Melalui LAZ UCare Indonesia ini, selain lebih aman dari sisi kesehatan donasi kita malah akan semakin bermanfaat dan berdaya guna secara berkesinambungan. 

Ya. donasi kita akan dipergunakan untuk berbagai program dari mulai pemberdayaan masyarakat, pelayanan kesehatan, pembangunan maderasah hingga pemberian beasiswa pendidikan untuk kaum dhuafa.

Kita pun tak perlu kuwatir berdonasi melalui LAZ Ucare Indonesia karena LAZ ini selain berpengalaman menangai donasi juga berprestasi serta mempunyai legalitas resmi seperti akta notaris, SK Menteri Hukum dan HAM, SK Kementrian Agama Provinsi Jawa Barat dan legalitas-legalitas lainnya.

Simak Video Storyboard 
berikut ini.

panah2

FINALLY,

Masalah berbagi, siapa pun bisa melakukannya. Bukan hanya tentang materi namun imateri pun boleh jadi. Di masa pandemi seperti ini adalah saat tepat untuk menumbuhkan semangat berbagi. Berapa pun dan apa pun yang kita donasikan, pasti bermanfaat. 

Terima kasih telah membaca artikel ini. Semoga menginspirasi.  

“Tulisan ini diikutsertakan dalam rangka Lomba Blog LAZ UCare Indonesia 2020.”

logo Ucare small

Jl. Rajawali Raya No.73, RT.009/RW.002, Kayuringin Jaya,
Kec. Bekasi Sel., Kota Bekasi, Jawa Barat 17144