Berpartipasi Dalam Mengatasi Permasalahan Sampah di Indonesia

Bukan hanya radikalisme, narkoba dan korupsi, bangsa kita pun menghadapi permasalahan lain yang tak kalah hebat yakni masalah sampah. Di setiap wilayah, sampah semakin mengancam dan berpotensi menimbulkan masalah sangat serius. Dibutuhkan kesadaran semua pihak, di mulai dari entitas terkecil yakni individu dan keluarga. Sebagai bagian dari kedirian bangsa ini, saya pun tergerak hati untuk lebih care terhadap permasalah sampah. Ini langkah kecil yang bisa saya lakukan. 

Siapa pun tahu kalau sampah menjadi salah satu penyebab munculnya berbagai permasalahan kesehatan.Sampah memberi kontribusi terhadap muculnya berbagai penyakit seperti  diare, kolera, demam berdarah hingga tifus.

Saya punya cerita empiris tetang hal itu ketika Tetangga sebelah rumah yang juga teman masa kecil saya dulu harus meregang nyawa karena diare yang berkepanjangan. Dengan tubuh lunglai sebelum kematianya, dia bercerita kalau besar kemungkinan diare itu terjadi setelah ia menyantap mie ayam murah meriah dari sebuah warung pinggir sungai yang berada tepat disamping tempat pembuangan sampah di kampung. 

Bukan saja menjajdi penyebab munculnya berbagai permasalahan kesehatan, pada bumi yang indah ini, sampah pun berperan dalam terjadinya pencemaran udara, global warming hingga terjajdinya bencana alam mengerikan seperti banjir, kebakaran hingga tanah longsor yang mengancam jiwa.

Bangsa ini tak mungkin lupa tragedi 17 tahun lalu, tepatnya pada tanggal 21 Februari 2005 ketika TPA Leuwigajah Cimahi longsor. Kala itu gunungan sampah sepanjang 200 meter dengan tinggi 60 meter itu goyah diguyur hujan deras. Akumulasi gas metan dari tumpukan sampah meledak dan membuat gundukan sampah longsor bak ombak menerjang apa pun yang ada di sekitarnya.

Tragedi itu menyebabkan tewasnya 143 warga, mengubur 71 rumah dan 2 kampung yaitu Kampung Cilimus dan Kampung Gunung Aki yang berada di sisi tebing, tepat di depan Gunung Gajah Langu. 

Paska kejadian memilukan itu, pada tahun 2006 Kementerian Lingkungan Hidup menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), yang selanjutnya kita peringati setiap tahunnya hingga saat ini.

Tanah Longsor

Bangsa Ini Sudah Darurat Sampah

Di sana-sini sampah telah menjadi momok yang mengamcam. Para pemerhati sampah mengatakan kalau pengelolaan sampah sangat buruk. Bahkan bisa dibilang kalau bangsa ini sudah masuk dalam level darurat sampah. Berbagai pihak pun sudah mendesak bahwa permasalahan sampah mestinya sudah disejajarkan dengan persoalan-persoalan kritis lain, seperti halnya darurat narkoba dan darurat korupsi serta harus mendapat perhatian lebih serius.

Kalau dikaji lebih mendalam, hal ini sebenarnya tidak berlebihan, lebih-lebih kalau melihat data yang dipaparkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia tahun 2020 lalu, bahwa jumlah timbulan sampah secara nasional sudah sangat tinggi, mencapai tak kurang dari 5,6 juta ton per bulan atau 67,8 juta ton per tahun. 

Dari jumlah tersebut, sampah yang dihasilkan rumah tangga masih memberi kontribusi dominan karena menyumbang 48% dari keseluruhan sampah sedangkan bila dilihat dari jenisnya, sampah organik masih mendominasi yakni sebanyak 60%. 

Namun, seiring pertumbuhan jumlah penduduk dan semakin membaiknya tingkat kesejahteraan masyarakat, timbulan sampah ini disinyalir akan terus bertambah seperti deret ukur. Dan bila terjadi pembiaran terus menerus tak mustahil bahwa dalam kurun waktu 5 hingga 10 tahun ke depan negara ini akan dikepung sampah. 

Begini Fakta Sampah di Indonesia!

Sumber Sampah

Rumah tangga 48%
Pasar Tradisional 24%
Kawasan Komersial 9%
Fasilitas Publik 19%

Jenis Sampah

Sampah Organik 60%
Pasar Tradisional 24%
Kawasan Komersial 9%
Fasilitas Publik 19%

ilustrasi sampah
hand-drawn-arrow_15.webp
Arrow-left2.webp
Arrow-left2.webp
hand-drawn-arrow_15.webp

Indonesia adalah peringkat kedua negara penghasil sampah plastik terbesar di dunia setelah China. Setiap tahunnya Indonesia memproduksi 3,2 juta ton sampah plastik. Bila dirata-rata, setiap penduduk Indonesia bertanggung jawab atas 17,2 kg sampah plastik yang sebagian besarnya berakhir di lautan karena tidak terolah.

 

Sumber:
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) 2020 dan olahan dari berbagai sumber.

Kota metropolitan dan kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, adalah kontributor sampah terbesar di Indonesia. Rata-rata produksi sampah harian di kota metropolitan (jumlah penduduk lebih dari 1 juta jiwa) sebesar 1.300 ton dan kota besar (jumlah penduduk 500 ribu – 1 juta jiwa) adalah sebesar 480 ton.

Sampahku Ya Tanggung Jawabku

Sejauh ini menurut saya pemerintah sudah berada di jalur yang benar yakni menjadikan sampah sebagai ancaman nasional jangka panjang. Roadmap pengelolaan sampah pun sudah dibuat yakni menetapkan target pengurangan sampah di hingga 30% sampai tahun 2025, serta target penanganan 70% dari timbulan sampah nasional dengan program pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan hingga pemrosesan akhir sampah. 

Roadmap ini adalah implementasi dari konsep dasar Adipura 2025, Amanat Presiden No. 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional (JAKSTRANS) Pengelolaan Sampah, PP No 27 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah Spesifik dan berbagai Peraturan Menteri KLH.     

bak sampah

Roadmap
Pengelolaan Sampah Nasional

Target Penangangan 70% Timbulan Sampah Nasional

Dasar Hukum

Pola pengelolaan sampah di Indonesia Selama ini

Diolah dari berbagai sumber

Target Pengurangan Sampah hingga 30% sampai tahun 2025

truk-sampah.webp
ilustrasi-sampah4.webp
hand-drawn-arrow_15.webp
hand-drawn-arrow_15.webp
Arrow-left2.webp
Diangkut Dan Ditimbun Di TPA 69 %
Dikubur 10 %
Dibuang Ke Sungai Atau Perairan 7 %
Dikompos Dan Didaur Ulang 7 %
Tidak Diolah 3 %

Akan tetapi, walaupun roadmap pengelolaan sampah sudah dibuat, namun bukan berarti mudah dalam implementasinya. Eksekusi di lapangan menjadi penentu, apakah roadmap tersebut hanya berujung angan atau menjadi rencana yang terealisasikan. 

Masalah sampah di republik ini adalah persoalan kompleks dan multidimensi. kediriannya terkait dengan berbagai pihak mulai individu, rumah tanggal, komunitas masyarakat hingga pemerintah sebagai pemangku kekuasaan.

Suatu ketika saya membaca sebuah data yang disajikan oleh BPS. Data yang dirilis tahun tahun 2018 tersebut mengatakan bahwa berdasarkan survey dan penelitian di lapangan, ternyata 72% masyarakat Indonesia masih belum peduli tentang sampah. 

Menurut saya data tersebut benar dan menggambarkan realitas yang sesungguh. Ali-alih membuang sampah di tempatnya, saya sendiri sering menyaksikan kebiasaan orang membuang sampah sembarangan di jalan saat berkendara, di sungai, dan di berbagai tempat lainnya seenenaknya sendiri tanpa merasa bersalah. Selain itu, masyarakat juga masih tidak peduli dengan pemilahan sampah dengan baik.

Tak jauh-jauh. Gambaran tersebut terjadi pula di lingkungan tempat tinggal saya. Yang paling kentara adalah kebiasaan warga yang membuang sampah tanpa melakukan pemilahan terlebih dahulu. Sampah-sampah hanya disakukkan k dalam kantong plastik kemudian ditaruh begitu saja ke keranjang sampah yang sama. Padahal, dari pemerintah desa sudah menyediakan tempat sampah terpilah.

Bisa jadi hal ini tidak hanya terjadi di lingkungan saya, tetapi di banyak wilayah lainnya. Menurut saya, masyarakat (rumah tangga) perlu diedukasi kembali pentingnya membuang sampah dengan baik sesuai jenisnya yakni sampah organik (degradable) yakni yang mudah membusuk secara alami, anorganik (undegradable) yang tidak mudah membusuk, serta sampah beracun (B3) yang masuk kategori berbahaya dan perlu penanganan khusus.

Pemilahan sampah sesuai jenisnya ini penting karena sebenarnya sudah menjadi rahasia umum kalau sampah-sampah tersebut mempunyai nilai ekonomis, bila di daur ulang. Sampah pastik, misalnya, dengan teknologi tertentu ia bisa didaur ulang menjadi sumber energi listrik atau campuran aspal. Sampah kertas yang bisa didaur ulang menjadi kertas lagi dan sampah-sampah organik bisa diolah menjadi kompos atau sumber energi biogas, dan sebagainya. 

Dari anotasi ini, saya pun merasa harus ikut berpartisipasi dalam penyelesaian masalah sampah. Semua saya awali dari diri saya sendiri harus aware dengan sampah. Hal paling sederhana adalah menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sambah sembarang. Lebih dari itu adalah membuang sampah dengan sebelumnya memilah-milah sesuai dengan jenisnya. 

Saya sadar bahwa pemilahan sampah sesuai jenisnya ini penting karena seburuk-buruknya sampah tetap saja mempunyai nilai ekonomis, bila di daur ulang. Sampah pastik, misalnya, dengan teknologi tertentu ia bisa didaur ulang menjadi sumber energi listrik atau campuran aspal. Sampah kertas yang bisa didaur ulang menjadi kertas lagi dan sampah-sampah organik bisa diolah menjadi kompos atau sumber energi biogas, dan sebagainya. 

Dokumentasi pribadi – TPS Lingkungan Tempat Tinggal, Kaligangsa Wetan, Brebes

Dokumentasi pribadi – Tempat Sampah Terpilah Lingkungan Tempat Tinggal, Kaligangsa Wetan, Brebes

Zero Waste Bersama Waste4Change

Beberapa tahun terakhir ini lagi marak pengelolaan sampah dengan Konsep Zero Waste. Pada prinsipnya, konsep ini mempunyai pola kerja merubah pola kumpul angkut buang menjadi pengurangan sampah melalui proses pemilahan dari rumah tangga. Barulah residu sampah yang tidak bisa diolah akan dibawa ke TPA. 

Di Indonesia, saat ini sudah ada banyak lembaga atau perusahaan yang secara intensif fokus pada pengelolaan sampah yang mengadopsi sistem ini dengan pengembangannya, salah satunya adalah Waste4Change,

Waste4Change ini adalah Waste Management Indonesia yang menyediakan layanan manajemen sampah secara bertanggung jawab (Responsible Waste Management) dan 100% menyeluruh untuk perusahaan, gedung, dan pelaku bisnis dalam rangka mengurangi jumlah timbunan sampah yang berakhir di TPA.

“Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Waste4Change Sebarkan Semangat Bijak Kelola Sampah 2021
Nama penulis: Bambang Purnomo”

Cara Baru Belajar

Bahasa Asing Online

Terbaik di Indonesia.

promo-bulanan