Tersembunyi di Balik Bukit hingga Mendunia, Sekelumit Cerita Desa Muncar yang Kian Moncer

Muncar. Awalnya tak banyak orang mengenal desa ini. Lokasinya yang relatif jauh dari pusat kota menjadi salah satu alasan kenapa desa di Kecamatan Gumawang Kabupaten Temanggung ini belum banyak dikenal orang. Ia seperti terasing dalam kesendirian di balik rimbunnya pepohonan yang tumbuh di bukit-bukit kecil yang mengelilingi, Bukit Mbelang, Bukit Ampel, dan Bukit Tanggulangsi.

Kalau pun ada yang tahu desa ini, bisa jadi dari kabar berita koran lokal atau dari cerita ketoprak Mataram yang diputar di TVRI Yogyakarta setiap Sabtu malam di masa silam. Ya, Muncar dan Temanggung secara umum acap kali dijadikan setting cerita ketoprak tentang kejayaan kerajan tempo dulu. Ini wajar karena secara historis wilayah ini memang pusat peradaban Mataram Kuno yang melahirkan keturunan raja-raja Jawa. Sebut saja seperti Sinuwun Ratu Sanjaya (732-760) yang menjadikan Parakan, Temanggung, sebagai ibu kota Kerajaan Mataram Kedu Darma.

Salah satu cerita ketoprak yang sedikit banyak mengenalkan Muncar pada khalayak luas adalah kisah perseteruan dan adu kesaktian dua tokoh pinunjul, yakni antara Ki Ageng Ngareanak dan Ki Ageng Kalinongko dengan pusaka andalan masing-masing berupa Tombak Koro Welang dan Keris Naga Sosro Sabuk Inten.

Kisah tersebut diakui sebagai awal muasal kedirian Desa Muncar. Nama Muncar itu sendiri diambil dari kata muncrat atau muncarnya darah yang membasahi bumi pertiwi dari kedua tokoh tersebut. Terdapat makam yang berada di Dusun Muncar Lor Sudimoro serta mahkota yang masih ditinggal di sana sebagai bukti.

Dalam perjalanan waktu, munculah istilah Moncer di belakang nama Muncar. Sebuah istilah sarat filosofi yang mempunyai makna Muncar yang bercahaya, memesona, jaya, sejahtera dan makmur. Beberapa tahun belakangan ini filosofi tersebut menjelma menjadi kenyataan. Muncar dikenal luas dan semakin moncer bersinar meski berada di balik bukit.

Peta DSA Muncar Keca Gemiwang Kab Magelang

Geliat Ekowisata dan Harumnya Kopi Robusta

Tahun 2015 saya mengunjungi Dusun Muncar Lor untuk ikut “mahayu bagyo” pernikahan kakak sepupu. Kala itu Muncar tak jauh beda dengan kebanyakan desa lainnya yang cenderung sepi. Namun selang tiga tahun ketika saya mengunjungi desa ini kembali untuk sebuah urusan, Muncar telah berubah dan semakin ramai.

Nampaknya Muncar telah berbenah diri dengan mengolah sedemikian rupa potensi wisata alam dan komiditas agro yang dimilikinya. Dalam kurun waktu yang relatif singkat, Muncar telah menjelma menjadi desa destinasi ekowisata (ecotourism) favorit di Kabupaten Temanggung yang ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun manca negara. Ekowisata itu sendiri adalah salah satu kegiatan pariwisata berwawasan lingkungan yang mengkombinasikan aspek konservasi alam, pemberdayaan sosial budaya dan ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan. Sebuah konsep wisata hijau yang belakangan ini berkembang di berbagai wilayah di Indonesia.

Satu sisi yang nampak menonjol dari desa dengan luas wilayah hanya 2.648 hektar ini adalah, pemukiman warga dengan hamparan persawahaan terasiring diberdayakan menjadi obyek wisata alam yang mengagumkan seperti halnya Ubud di Bali. Terasiring ini bahkan menjadi ikon baru Muncar hingga ia mendapatkan julukan baru sebagai “Balinya Jawa Tengah”.

Tidak cukup sampai di situ. Di atas lahan persawahan pun terdapat jembatan sawah dengan gazebo-gazebo kayu yang estetik, tanpa merubah fungsi lahan sedikit pun. Dari sini wisatawan bisa memanjakan diri menikmati keindahan alam berlatar belakang bukit hijau yang mengelilingi, melihat proses pembajakan sawah, atau menyaksikan sekumpulan wanita tengah baya yang sedang menanam benih padi sembari menikmati harumnya kopi Robusta, minuman gula semut jahe dan berbagai kuliner olahan dari desa sendiri seperti keripik pisang, keripik bonggol pisang, keripik daun kopi, atau keripik talas.

Dokumentasi DSA Muncar 02 scaled

Tumbuh menjadi desa wisata, Muncar juga memaksimalkan obyek wisata Air Terjun Curug Lawe setinggi 250 meter yang berada di kawasan hutan pinus. Yang tak kalah ikonik adalah pemukiman sunrise Dusun Blawong yang viral di sosial media dan disebut-sebut sebagai “Korea van Java”. Ini adalah pemukiman di atas kabut yang berada di patahan lembah di antara jajaran pegunungan dan perbukitan. Percayalah, menikmati sunrise di sini ini tak kalah dengan sunrise di Danau Inle (Myanmar), Bryce Canyon (Amerika Serikat), bahkan Delta Okavango (Botswana).

Satu keunggulan komparatif lain yang dimiliki Desa Muncar adalah trip kawasan Agroforestry Tlogowungu dengan mobil off-road. Selain memacu adrenalin, di sepanjang perjalanan wisatawan akan diperlihatkan vegetasi dan pepohonan tropikal alam bebas yang berpadu dengan merdunya kicauan burung.

Dokumentasi DSA Muncar 03

Selain wisata alam, Muncar juga berhasil mengembangkan potensi komuditas agro (perkebunan dan palawija). Berada di ketinggian 550 meter di atas permukaan laut, desa ini sejak dulu memang disebut-sebut memiliki karakteristik tanah terbaik untuk pengembangan komoditas agro seperti kopi, tembakau, panili, cengkeh, kemukus, aren, pisang tanduk, dan sebagainya. Fakta ini pun tercatat dalam prasasti VOC tahun 1619 yang berada di bukit Tanggulangsi Muncar.

Kopi Robusta Muncar dan Single Origin Arabika Petaranga bahkan telah menjadi komoditas andalan yang diserap pasar nasional bahkan manca negara seperti Belanda. Potensi agro ini selanjutnya memberi inspirasi munculnya serangkaian kegiatan bernuansa kopi seperti Muncar Moncer Coffee Trip, di mana wisatawan akan diajak berkeliling kebun kopi memakai caping dan tenggok (semacam bakul kecil untuk wadah hasil panen kopi), menikmati sensasi makan bersama di perkebunan, serta melihat proses pembuatan kopi ketika kembali ke pemukiman.

Tahun 2019 lalu Muncar menyelenggarakan Festival Panen Raya Kopi Sang Intan Merah Bumi Phala, lomba Tarung Seduh Barista Tingkat Jateng-DIY, dan Muncar Fun Brewing V60 Competition. Dua di antaranya bahkan telah menjadi Calender of Event (CoE) yang diselenggarakan tahunan di bulan Juli dan Agustus.

Dokumentasi DSA Muncar 04
Produk Kopi DSA Temanggung Muncar Moncer

Menjadi Salah Satu Desa Binaan Astra dalam Program Desa Sejahtera Astra (DSA)

Moncernya Desa Muncar karena keberhasilannya mengawinkan potensi wisata alam dan agro ini tak lepas dari peran Sofiyudin Achmad, atau yang lebih akrab dipanggil Sofi. Sejak tahun 2016, laki-laki yang menjadi nara sumber tulisan saya melalui berbagai saluran komunikasi ini adalah inisiator desa wisata berbasis masyarakat dan komunitas di Muncar.

Pejuangan keras Sofi dalam mengajak dan menggerakan masyarakat setempat pun berbuah manis. Ia menjadi salah satu penerima penghargaan bergengsi bidang lingkungan tingkat propinsi pada Satu Indonesia Awards di tahun 2017 silam. Dari momen inilah akhirnya menjadi jalan lapang dan berkah tersendiri bagi masyarakat Muncar untuk lebih sejahtera. Pasalnya, pada tahun 2019 Astra memilih Desa Muncar sebagai salah satu desa binaan dalam Program Desa Sejahtera Astra (DSA).

Desa Sejahtera Astra adalah salah satu program kontribusi sosial berkelanjutan Astra (CSR- Corporate Social Responsibility) yang fokus pada pemberdayaan kewirausahaan di tingkat desa sesuai dengan potensi masing-masing dengan pendampingan mulai dari pelatihan, bantuan prasarana, hingga fasilitas modal dan pemasaran produk, bahkan hingga ekspor. Hingga tahun 2020, Program Desa Sejahtera Astra ini telah menjangkau 755 desa yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia.

Sampai akhir Desember 2021, di Kabupaten Temanggung sendiri terdapat 14 desa berstatus DSA. 3 desa di antaranya berstatus sebagai desa induk dan 11 lainnya sebagai desa mitra. Selain Muncar yang mewakili Kecamatan Gemiwang, desa lain yang masuk dalam program ini adalah Desa Dlimoyo dan Rejosari (Kecamatan Wonoboyo), Desa Rejosari, Tlogo, Simpar dan Bendungan (Kecamatan Tretep), Desa Petarangan (Kecamatan Kledung ), Desa Danurejo (Kecamatan Kedu), dan Desa Tlogowungu (Kecamatan Kaloran).  Setiap desa dibagi berdasarkan klaster seperti klaster pariwisata, ekonomi kreatif, agrikultura dan olahan, peternakan dan perikanan. 

Sebagai inisiator desa wisata dan penerima penghargaan dari Astra, Sofiyudin Achmad ditunjuk sebagai fasilitator DSA Temanggung di bidang kopi, pariwisata, craft, dan peternakan sejak tahun 2018, tepat setahun setelah ia menerima penghargaan.

Dokumentasi Sofiyudin Achmad
Milestone DSA Temanggung 2017-2021

Bentuk Dukungan Astra

Sofiyudin Achmad bercerita kepada saya bahwa dukungan Astra dalam program DSA ini tidak main-main, mulai dari konsep dan perencanaan, edukasi, promosi, hingga pemasaran. Setiap desa yang masuk dalam program ini mendapat pelatihan manajemen model partnership dan farm preneruship, serta pelatihan penyusunan masterplan berbasis community development dan creativity sharing value.

Untuk mendukung proses, Astra juga menyediakan berbagai fasilitas, sarana dan prasarana produksi kopi, pariwisata dan peternakan. Selain itu Astra selalu hadir dan memfasilitasi berbagai event promosi dan branding berbasis festival panen raya kopi Bumi Phala, pembentukan kelembagaan legal formal dan legal standing hingga menyediakan bantuan promosi dan buyermatching untuk akses pasar nasional dan internasional.

Konsep Pengembangan DSA Muncar Moncer Temanggung

Seguyub Warga Tersenyum Menikmati Hasil

Desa Sejahtera Astra di Muncar Moncer memang baru berjalan kurang dari dua tahun, namun seguyub warga desa kini senyum menikmati hasil dari produk kopi dan wisata. Pendapatan penduduk yang sebelumnya berasal dari bertani dan “mblandong” (mengumpulkan kayu gelondongan) kini lebih variatif baik dari sektor pariwisata, ekonomi kreatif, agrikultura dan olahan hingga peternakan dan perikanan. 

Dari hasil produk kopi saja, hingga tahun 2021 pendapatan penduduk mengalami kenaikan hingga Rp30 juta per tahun. Lebih-lebih ketika kopi diterima pasar di Negeri Kincir Angin  karena memiliki kualitas bagus dengan harga lebih dari Rp40.000 per kilogram, lebih tinggi dari harga di level petani yang biasanya hanya Rp26.000 per kilogram.

Selain itu, kopi dan nira aren yang sebelumnya hanya dipasarkan apa adanya, kini memiliki produk-produk turunan yang laku dan diserap pasar sehingga dapat menambah pendapatan para petani kopi. 

Sejalan dengan hasil produk kopi, masyarakat Muncar pun kini tersenyum ceria karena mendapatkan nilai tambah secara ekonomi dari adanya paket wisata dan homestay yang lebih tertata. Sebelum ada DSA, masyarakat masih kesulitan dalam hal planning dan developing. Berkat berbagai pelatihan yang diberikan Astra, masyarakat sudah bisa mengatasi kendala tersebut dan lebih fokus pada pengembangan berkelanjutan dengan menerapkan konsep branding, advertising, selling dan kolaborasi kelembagaan yang lebih baik. 

Hasil dari proses ini semua, Muncar semakin mocer bersinar meski dari balik bukit dengan segala potensi yang dimiliki. Pariwisatanya berkembang, kopi, gula aren dan produk turunannya pun melenggang. Tentu saja ini berkorelasi positif terhadap perputaran roda ekonomi penduduk yang berujung pada satu titik bernama kesejahteraan yang berkeadilan, seperti semangat dan cita-cita Astra yang ingin sejahtera bersama bangsa.

Tawa Ceria Warga Menikmati Hasil