Skip to content

Website Untuk Masjid Al Muhajirin

Masjid di kampung saya sudah punya website. Bukan hanya untuk dakwah dan menyediakan informasi, namun juga untuk lini usaha masjid. Apa saja?

Geometric 26
tablet 01
screen 03
screen 02
screen 03

Sampai saat ini saya masih tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi dengan masjid Al-Muhajirin yang ada di kampungku.

Saya merasa bahwa masjid dengan desain modern yang mampu menampung jamaah hingga 500 orang ini tak seramai masjid-masjid lain yang saya ketahui.

Sholah tarawih tempo hari saja hanya diisi 2-3 shof atau sekitar 30 jamaah saja. Itu pun hanya di awal dan akhir Ramadan. Padahal kalau dilihat dari demografisnya, masjid yang dibangun 10 tahun lalu ini berada di lokasi cukup strategis, yakni di perumahan padat penduduk dari dua perumahan sekaligus.

Selain itu, fasilitas masjid pun lumayan komprehensif dari mulai ruangan ber-AC, wallfan, sound system bagus,  air minum gratis, dan lain sebagainya. Tapi toh itu semua tidak lantas menjadikannya ramai jamaah.

Di hari-hari biasa, jamaah masjid bahkan hanya 5-10 orang saja. Itu juga hanya para jamaah lanjut usia yang sholatnya saja ada yang sudah sambil duduk.  

Karena itu pula, dengan gaya bercanda tetangga samping rumah sampai menjuluki masjid Al-Muhajirin adalah “Masjid Kanek”. Maksudnya tak lain adalah masjid yang pengurus dan jamaahnya adalah para kakek-nenek atau lansia. 

Saya yang merupakan penduduk baru di kampung ini pun merasa prihatin. Lebih tepatnya belum bisa berbuat apa-apa karena saya bukan pengurus masjid melainkan hanya jamaah biasa yang ingin memakmurkan masjid.  

Meskipun demikian, di tengah keprihatinan tersebut saya toh ingin ikut andil membuat masjid Al Muhajirin semakin ramai jamaah dan menjadi pusat peribadatan serta kegiatan warga di kampung saja.

Saya pikir kampung akan semakin berkah kalau ini terjadi dan masyarakat akan semakin guyup bertemu ditempat yang dicintai Allah yakni masjid.

Mungkin Saja!

ANTARA PANDEMI DAN PELIBATAN SI MUDA USIA

Meskipun saya belum menemukan penyebab pastinya namun dalam benak saya mengatakan bahwa salah satu penyebabnya adalah pandemi yang berkepanjangan. 

Ya, saya pikir kita mahfum bahwa selama pandemi aktivitas berkerumun memang menjadi hal yang sangat sensitif. Bisa jadi karena hal itu pula yang menyebabkan warga lebih senang melakukan ibadah di rumah masing-masing ketimbang melangkahkan kaki ke masjid. Effek pandemi ini sepertinya masih terbawa hingga saat ini ketika pemerintah sudah melonggarkan aturan.

Selain itu, saya merasa kalau pengurus masjid belum banyak melibatkan anak-anak muda dalam aktivitas masjid, selain hanya ketika ada event temporer saja seperti penerimaan zakat fitrah dan penyembelihan daging Qurban saat Idul Adha.

Meskipun persentasenya kecil, kurangnya keterlibatan anak-anak muda dalam aktivitas masjid memang masih terjadi di beberapa tempat. Masjid kebanyakan didominasi generasi old.

Dulu ketika anak lelaki saya mengumandangkan azan dhuhur di masjid kampung (di Yogya). Eh, malah dibentak-bentak sama pengurus masjid. Alasanya sudah ada muadzinnya sendiri. Aneh bin ajaib gak sih?

Pelibatan yang saya maksudkan dalam hal ini adalah dimulai dari masuk anak-anak muda dalam kepengurusan masjid. Masukanya pemuda dalam kepengurusan sedikit banyak akan mendorong mereka terlibat aktif dalam aktivitas harian masjid. 

Lebih jelasnya, pelibatan tersebut bisa saja dengan menjadwalkan mereka menjadi muazdin dan menjadi imam sholat bagi yang hafalan Al-Qur’annya bagus secara bergantian, atau diberi tanggung jawab untuk mengelola kegiatan masjid seperti TPQ, atau kajian-kajian rutin keagamaan yang selama pandemi vakum.

Saya yakin, andaikan saja pemuda-pemuda mendapatkan tempat seperti ini maka besar kemungkinan masjid akan selalu ramai. Apalagi jumlah anak-anak muda usia sekolah dan anak kuliahan di kampung saya banyak sekali. Seandainya saja sebagian besar pemuda datang ke masjid untuk sholat berjamaah, maka separuh ruangan sepertinya akan terisi. 

Website Untuk Masjid Al Muhajirin:

Dari MEDIA dakwah digital hingga untuk lini usaha MASJID

Sebagai bagian dari pemuda di kampung, saya juga ingin melihat dan merasakan adanya perubahan di Masjid Al Muhajirin ini. 

Banyak hal yang perlu dilakukan, namun yang paling mendasar adalah, masjid Al Muhajirin perlu “ditata dan dibranding ulang”.

Penataan ulang tersebut bukan hanya pada kepengurusannya saja namun juga pada kemampuannya menyelenggarakan layanan-layanan kegiatan-kegiatan yang mengundang minat anak muda.

Selain itu masjid Al Muhajirin juga harus memiliki opsi untuk melengkapi diri dengan fasilitas modern dan menarik seperti perpustakaan (taman bacaan islami), wifi, dan sebagainya.

Saya, dengan didukung beberapa anak mudah yang memiliki pemikiran sama, memulai perubahan tersebut dengan mengonlinekan masjid dengan sebuah website.

Website tersebut sudah aktif dan bisa diakses khalayak dengan alamat domain www.almuhajirinbrebes.my.id.

Keberadaan website masjid Al Muhajirin tersebut bukan semata-mata hanya untuk media dahwah, publikasi & informasi kegiatan, dan donasi, namun lebih dari itu adalah untuk kebutuhan pendirian lini usaha masjid seperti layanan aqiqah dan tour & travel (ziarah Walisongo) pada tahap awal.

Lini usaha masjid tersebut dikelola sepenuh oleh pemuda. Hasilnya akan digunakan untuk menambah uang kas masjid yang berguna untuk membiayai kegiatan-kegiatan masjid, menambah fasilitas serta pemeliharaannya agar masjid lebih kekinian dan modern.

Pertanyaannya, memang masjid boleh digunakan untuk jual beli?

Website al Muhajirin 01 new
Website al Muhajirin 02
Masjid Al Muhajirin event
Arrow-left2.webp
Arrow-left2.webp
Arrow-left2.webp
Arrow-left2.webp
hand-drawn-arrow_15.webp

Front Top (menu navigasi, slider, dan layanan masjid)  

Halaman Kontak (alamat, nomor telpon, message box) 

Front bottom (Link, develop and support)  

Tabed informasi (artikel, pengumuman, khotbah jum’at, laporan kotak infaq) Jadwal sholat dan Callout.

Slider informasi event dan kegiatan

Masjid Al Muhajirin footer
Kontak Masjid Al Muhajirin

Tentu saja masjid tidak boleh dijadikan tempat bisnis atau jual beli. Ini berdasarkan hadits Nabi,

“Jika kalian melihat orang yang menjual atau membeli di dalam masjid, maka katakkanlah: “Semoga Allah tidak memberikan keuntungan pada perniagaanmu.” Dan jika kalian melihat orang yang mencari barang yang hilang maka katakanlah: “ Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu.”

– HR Muslim: 568, Abu Dawud: 473 dan At Tirmidzi: 1321. Redaksi hadits ini adalah milik At Tirmidzi.

Karena hadits Nabi ini pula lini usaha layanan aqiqah dan tour travel tersebut pun tidak menggunakan area masjid sebagai kantor operasionalnya namun terpisah dari lingkungan masjid. 

Kebetulan ada rumah kosong yang lokasinya tak jauh dari masjid. Pemiliknya yang merupakan seorang juragan warteg sukses di Jakarta pun sudah mengkonfirmasi dan membolehkan untuk ditempat.  

Jadi dalam hal ini masjid Al Muhajirin hanya akan dijadikan sebagai induk usaha dan nama brand saja sedangkan lokasi usaha tidak berada di dalam masjid.

Terlepas dari itu, sebagai sebuah usaha di era digital seperti saat ini tentu saja kehadiran website masjid Al Muhajirin ini akan memberikan dampak positif bagi lini usaha yang akan dibangun ini. 

Dampak positif yang saya maksud adalah usaha akan terlihat profesional dan akan dipercaya oleh masyarakat (calon pengguna layanan) karena selain memiliki tempat fisik juga alamat digital yang berisi berbagai informasi.

Selain itu, potensi untuk berkembang dan mendapatkan pasar pun semakin terbuka lebar karena website menjangkau semua tempat, tak terbatas jarak dan waktu.    

Say Something!

Butuh sesuatu, ingin menawarkan kerja sama, mau kasih donasi, atau mau ngajak “ngangkring bareng”, jangan ragu untuk menghubungi saya.

Harga dan Fitur Hosting Murah RumahWeb

[table id=17 /]

Tips Menang Lomba Blog, 100% Menang!

  • 1
    Buat lomba blog sendiri
  • 2
    Sediakan hadiah sendiri
  • 3
    Ikuti sendiri
  • 4
    Jadi juri dan nilai sendiri
  • 5
    Menangkan tulisan sendiri
  • 6
    Sukses!
piala

Ups sorry saya bercanda! 

Saya hanya mau mengatakan bahwa menang lomba blog itu susah dirumuskan bahkan tidak ada rumusnya sama sekali. Itu menurut saya. Berbagai tips yang ada hanyalah guidance agar artikel kita lebih terstruktur, mendekati syarat dan ketentuan lomba begitu. Namun itu tidak memberikan jaminan menang dalam lomba blog. Faktanya, banyak artikel bagus (isi, layout, sesuai S & K) namun kalah. Sedangkan artikel yang sangat sederhana justru malah menang. 

Dari fakta ini saya berpendapat bahwa setiap peserta lomba memiliki peluang yang sama. Tidak perduli ia blogger top, blogger celebrity, blogger mastah, blogger senior, blogger pemula, dan apa pun sebutan atau predikatnya. Yang penting adalah menulis artikel dan segera mensubmitnya. Itu saja. 

Abaikan pandangan juri berpihak, tidak fair, penyelanggara lomba sudah mensetting pemenangnya, atau pemenang hanya dari kalangan terdekatnya saja. Ya abaikan saja pikiran tersebut meski pun tidak menutup kemungkinan hal itu terjadi. 

Satu lagi, percayalah bahwa setiap tulisan kita akan menemukan takdirnya sendiri. Selain itu menang atau kalah itu erat hubungannya dengan REJEKI, dan rejeki itu tak akan tertukar.

Wallahu a’lam bishawab.